Anak Sulit Tenang? Mungkin Ia Belum Tahu Caranya

Cara mengajarkan self-calming pada anak melalui contoh, latihan, lingkungan, dan hubungan yang aman.

Ilustrasi ibu dan anak duduk bersama di sudut rumah yang tenang, melakukan aktivitas self-calming setelah belajar.

Preface

“Sudah, jangan marah.”

“Tenang dulu.”

“Jangan nangis.”

“Coba fokus lagi.”

Kalimat-kalimat di atas mungkin ekspresi harian yang kita sampaikan ke anak kita.

Apalagi ketika anak sedang mengerjakan sesuatu, lalu tiba-tiba frustrasi. Pensil dilempar. Worksheet ditinggalkan. Anak menangis karena merasa tugasnya terlalu sulit. Atau ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, emosinya langsung membesar.

Sebagai orang tua, sangat wajar jika kita ingin situasi segera kembali tenang, makanya kita keluarkan pertanyaan-pertanyaan senada seperti di atas.

Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin tidak "kepikiran" oleh kita:

Bagaimana kalau masalahnya bukan anak tidak mau tenang? Bagaimana kalau ia memang belum tahu caranya?

Respon yang tepat dapat mengubah cara kita melihat situasi.

Alih-alih hanya meminta anak untuk berhenti marah atau berhenti menangis, kita bisa mulai melihat kemampuan menenangkan diri sebagai sebuah keterampilan yang perlu dipelajari dan dilatih.

Dan seperti keterampilan lain, anak tidak langsung menguasainya hanya karena kita pernah menjelaskannya sekali.

Apa itu self-calming pada anak?

Secara sederhana, self-calming adalah kemampuan anak untuk menggunakan strategi tertentu ketika ia mulai merasa kewalahan oleh emosi, energi, atau situasi yang sedang dihadapinya.

Strateginya bisa berbeda-beda:

  • Sebagian anak mungkin terbantu dengan latihan pernapasan.
  • Anak lain mungkin lebih nyaman menggunakan self-talk,
  • Ada juga anak yang melakukan gerakan yang menenangkan:
    • menggambar,
    • membaca buku tentang perasaan,
    • atau mengambil waktu di tempat yang lebih tenang.

Jadi, tujuan akhirnya bukan membuat semua anak tenang dengan cara yang sama.

Yang lebih penting adalah membantu anak mengenali:

“Ketika perasaanku mulai terlalu besar, apa yang bisa membantuku kembali lebih tenang?”

Ini adalah perbedaan penting antara meminta anak tenang dan mengajarkan anak cara menenangkan diri.

“Tenang” sendiri bukan sebuah keterampilan.

Keterampilan yang bisa anda latih bersama dengan anak:

  • Bernapas,
  • berhenti sejenak,
  • menggunakan kalimat tertentu untuk berbicara kepada diri sendiri,
  • melakukan mindful movement,
  • atau pergi ke tempat yang lebih tenang

Mengapa anak tidak bisa begitu saja “calm down”?

Karena ketika emosi anak sudah sangat besar, instruksi sederhana seperti “tenang” belum tentu memberi tahu anak apa yang harus dilakukan.

Bayangkan seseorang berkata kepada kita: “Jangan gugup.”

Apakah kalimat itu otomatis membuat kita tahu bagaimana cara mengurangi rasa gugup?

Belum tentu.

Hal yang sama dapat terjadi pada anak.

Ketika anak sedang frustrasi, cemas, gugup, sangat bersemangat, atau overwhelmed, mereka mungkin membutuhkan bantuan untuk kembali ke kondisi yang lebih siap sebelum dapat melanjutkan aktivitas.

Karena itu, ketika anak tiba-tiba tidak bisa fokus mengerjakan tugas, mungkin ada baiknya kita tidak langsung menyimpulkan:

“Dia malas.”

atau:

“Dia memang tidak mau belajar.”

Pertanyaan lain mungkin lebih membantu:

“Apakah dia sedang terlalu overwhelmed untuk kembali belajar sekarang?”

Ini bukan berarti setiap kesulitan belajar disebabkan oleh kondisi emosional.

Tetapi kondisi emosional adalah salah satu hal yang layak dipertimbangkan sebelum kita buru-buru memperbaiki cara belajar anak.

Kadang, membantu anak melakukan reset terlebih dahulu justru menjadi langkah sebelum kembali ke tugas akademiknya.

Anak belajar regulasi emosi dengan melihat orang dewasa

Ada satu gagasan menarik dari sumber yang menjadi dasar artikel ini: orang dewasa dapat dibayangkan sebagai “thermostat, not thermometer.”

Thermometer membaca suhu.

Thermostat ikut memengaruhi suhu.

Dalam konteks ini, orang dewasa bukan hanya membaca suasana hati anak. Cara kita berbicara, bereaksi, dan menghadapi emosi juga dapat ikut membentuk suasana emosional di sekitar anak.

Bayangkan anak mulai frustrasi.

Suaranya meninggi.

Lalu suara orang tua ikut meninggi.

Anak semakin keras.

Orang tua semakin keras lagi.

Tanpa kita sadari, situasi menjadi seperti dua orang yang sama-sama menaikkan volume.

Tentu, tidak mudah untuk selalu tenang ketika anak sedang tidak tenang.

Dan kita tidak perlu berpura-pura bahwa orang tua tidak pernah punya big feelings.

Justru anak dapat belajar sesuatu yang berharga ketika melihat orang dewasa mengakui emosinya sekaligus menunjukkan cara menghadapinya.

Misalnya:

“Mama mulai kesal. Mama tarik napas dulu sebentar.”

Atau:

“Ini memang agak sulit. Mama coba pelan-pelan dulu.”

Anak tidak hanya mendengar nasihat tentang regulasi emosi.

Ia melihat contohnya.

Ia melihat bahwa orang dewasa juga bisa merasa kesal, lelah, atau frustrasi—dan bahwa ada cara untuk merespons perasaan tersebut.

Itulah mengapa mengajarkan regulasi emosi bukan hanya soal apa yang kita katakan kepada anak.

Sebagian prosesnya terjadi melalui apa yang anak lihat.

Self-calming sebaiknya dilatih sebelum benar-benar dibutuhkan

Ada alasan mengapa kata practice menjadi penting.

Jangan menunggu anak sudah sangat marah baru memperkenalkan teknik menenangkan diri untuk pertama kalinya.

Ketika suasana masih tenang, anak punya kesempatan untuk mencoba tanpa tekanan.

Misalnya, Anda bisa membuat ritual sederhana sebelum belajar:

“Sebelum mulai, yuk tarik napas tiga kali.”

Atau memperkenalkan gerakan sederhana yang membuat anak terbiasa berhenti sejenak dan memperhatikan tubuhnya.

Sumber yang menjadi dasar artikel ini juga menyebut berbagai latihan seperti starfish breathing, rainbow breathing, snake breathing, dan mindful movement sebagai contoh praktik yang dapat diperkenalkan ketika suasana masih tenang. Untuk muslim contoh praktiknya adalah ketika berdzikir dengan tenang, suara lirih, dan menghayati makna setiap dzikir yang diucapkan. Lihat surah Ar-Ra'du ayat 28, yang artinya kurang lebih adalah:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Tujuannya bukan agar anak melakukan teknik dengan sempurna.

Tujuannya adalah membangun familiarity.

Ketika suatu hari big feelings datang, anak setidaknya sudah memiliki beberapa strategi yang pernah ia kenal dan coba.

Dengan kata lain:

Momen tenang adalah waktu untuk belajar. Momen emosi besar adalah waktu menggunakan keterampilan yang sudah dilatih.

Lingkungan juga bisa membantu anak menjadi lebih tenang

Self-regulation tidak hanya bergantung pada “kemauan anak”.

Artikel juga membahas pentingnya menciptakan lingkungan yang lebih menenangkan: pencahayaan yang tidak terlalu menstimulasi, serta ruang khusus untuk menenangkan diri.

Peace corner bukan tempat menghukum anak

Peace corner sebaiknya tidak menjadi:

“Kamu nakal, sana duduk di pojok.”

Fungsinya justru berbeda.

Peace corner dapat menjadi tempat yang sudah dikenalkan kepada anak sebagai salah satu pilihan ketika ia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan dirinya.

Isinya tidak harus rumit.

Misalnya:

  • buku tentang perasaan;
  • kertas dan krayon;
  • boneka lembut;
  • atau benda lain yang dipilih bersama anak.

Yang paling penting bukan seberapa bagus sudut tersebut dibuat.

Yang lebih penting adalah anak memahami:

“Tempat ini bisa membantuku mengambil waktu untuk menjadi lebih tenang.”

Dan pemahaman tersebut sebaiknya dibangun sebelum anak membutuhkannya.

Tidak semua anak membutuhkan cara yang sama

Ini juga penting.

Tidak ada satu resep yang harus digunakan semua anak.

Ada anak yang merasa terbantu dengan menarik napas.

Ada yang lebih nyaman berbicara kepada dirinya sendiri.

Ada yang perlu bergerak.

Ada yang suka menggambar.

Ada yang merasa lebih nyaman membaca buku tentang emosi.

Ada pula yang mungkin membutuhkan waktu di lingkungan yang lebih tenang.

Karena itu, daripada mengatakan:

“Ini cara yang benar untuk tenang.”

kita bisa mengubah pendekatan menjadi:

“Mari cari tahu apa yang membantu kamu kembali tenang.”

Ini memberi anak kesempatan untuk mengenali dirinya sendiri.

Secara perlahan, anak bukan hanya belajar menerima bantuan dari orang dewasa. Ia juga mulai mengenali strategi yang bisa ia gunakan ketika menghadapi big feelings.

📊 Contoh Big Feelings

Usia Contoh Big Feelings Respons Sehat
Anak kecil Menangis keras saat mainan rusak Pelukan, validasi, alihkan perhatian
Remaja Menutup diri setelah konflik Dengarkan tanpa menghakimi, beri ruang aman
Dewasa Cemas berlebihan, mudah marah Mindfulness, olahraga, bicara dengan konselor

Regulasi emosi bukan hanya tentang berhenti menangis

Ada hal lain yang menarik dari gagasan ini.

Self-calming tidak hanya berkaitan dengan pertanyaan: “Bagaimana membuat anak berhenti menangis?”

Kemampuan menenangkan diri juga berkaitan dengan bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain.

Dalam sumbernya, Edutopia membahas talking circles sebagai salah satu praktik yang dapat membantu anak mendengarkan orang lain, menunggu giliran, memahami perspektif, membangun koneksi, dan mengembangkan empati.

📊 Perbandingan Talking Circle vs Diskusi Biasa

Aspek Talking Circle Diskusi Biasa
Struktur Duduk melingkar, bergiliran dengan talking piece Bebas, sering tidak teratur
Hak bicara Hanya pemegang talking piece Semua bisa bicara kapan saja
Tujuan utama Kesetaraan, mendengarkan, penyembuhan Bertukar ide, debat, keputusan cepat
Atmosfer Aman, reflektif, tanpa interupsi Bisa kompetitif, dominasi suara
Konteks Tradisi adat, terapi, restorative justice Rapat, kelas, forum umum

Dalam kehidupan di rumah, prinsip tersebut dapat diterjemahkan secara sederhana.

Misalnya, setelah anak sudah lebih tenang setelah sebuah konflik, kita bisa bertanya:

“Tadi kamu merasa apa?”

“Menurutmu, apa yang terjadi?”

“Kalau kejadian seperti ini terjadi lagi, apa yang bisa kita coba?”

Tujuannya bukan semata-mata mencari siapa yang salah.

📊 Contoh Pertanyaan Talking Circle

Putaran Pertanyaan untuk Kelas Pertanyaan untuk Keluarga
1 Apa hal menyenangkan di sekolah hari ini? Apa hal terbaik yang terjadi minggu ini?
2 Apa tantangan yang kamu hadapi di pelajaran? Apa yang membuatmu kesal atau sedih belakangan ini?
3 Bagaimana teman/kelas bisa mendukungmu? Apa yang bisa kita lakukan agar rumah lebih nyaman?

Anak juga perlu belajar memahami apa yang terjadi, mendengarkan perspektif orang lain, menyelesaikan masalah, dan memperbaiki hubungan setelah konflik.

Jadi, self-calming adalah salah satu bagian dari kemampuan sosial dan emosional yang lebih luas.

Lalu, bagaimana mengajarkan anak menenangkan diri di rumah?

Tidak harus dimulai dengan program yang rumit.

Beberapa langkah sederhana berikut dapat menjadi titik awal.

1. Buat ritual calming ketika anak sedang tenang

Pilih waktu yang relatif santai.

Sebelum belajar, misalnya, Anda bisa mengajak anak melakukan beberapa tarikan napas atau gerakan sederhana.

Tidak perlu menunggu sampai anak tantrum.

Justru ketika suasana baik-baik saja, anak memiliki kesempatan untuk mengenal praktik tersebut tanpa tekanan.

2. Tunjukkan cara Anda sendiri menghadapi emosi

Daripada selalu menyembunyikan emosi dari anak, tunjukkan proses yang sesuai dengan situasi.

Misalnya:

“Mama mulai agak kesal. Mama tarik napas dulu.”

Atau:

“Ini agak sulit, tapi kita coba satu-satu.”

Anak kemudian melihat bahwa mengelola emosi bukan berarti tidak pernah merasa marah atau frustrasi.

Mengelola emosi berarti memiliki cara untuk menghadapi perasaan tersebut.

3. Buat peace corner sederhana

Tidak perlu membuat ruangan khusus.

Satu sudut kecil pun bisa cukup.

Ajak anak memilih beberapa benda yang menurutnya menenangkan.

Yang penting, jelaskan fungsi tempat tersebut ketika anak sedang tenang.

Jangan memperkenalkannya sebagai tempat hukuman.

4. Coba beberapa strategi

Perhatikan apa yang tampaknya membantu anak.

Apakah ia lebih nyaman: bernapas?

Bergerak?

Menggambar?

Berbicara?

Membaca?

Atau mengambil waktu sebentar di tempat yang lebih tenang?

Tidak perlu memaksakan satu metode kepada semua anak.

5. Bicarakan kejadian setelah anak kembali tenang

Ketika emosi masih sangat tinggi, mungkin bukan waktu terbaik untuk memberikan penjelasan panjang.

Setelah situasi lebih tenang, barulah percakapan dapat dilakukan.

Bukan:

“Tuh, Mama sudah bilang dari tadi!”

Sebaiknya:

“Tadi apa yang membuat kamu kesal?”

“Apa yang bisa membantu kamu kalau hal seperti ini terjadi lagi?”

Dengan begitu, kejadian yang sulit dapat menjadi kesempatan untuk belajar.

Lima situasi yang mungkin terjadi di rumah

Konsep ini menjadi lebih mudah dipahami ketika kita membawanya ke situasi sehari-hari.

1. Ketika anak tiba-tiba tidak mau mengerjakan tugas

Respons spontan kita mungkin:

“Kok sekarang malas?”

Tetapi sebelum menyimpulkan, kita bisa berhenti sebentar dan bertanya:

“Apakah anak sedang terlalu penuh dengan emosi atau energi untuk masuk ke aktivitas akademik?”

Mungkin ia memang perlu reset terlebih dahulu.

Setelah lebih siap, barulah kita kembali ke tugas.

2. Ketika anak menangis karena sesuatu terasa sulit

Kita mungkin tergoda berkata:

“Masa begitu saja tidak bisa?”

Tetapi anak yang sedang overwhelmed mungkin tidak membutuhkan tekanan tambahan.

Kita dapat membantunya kembali lebih tenang terlebih dahulu.

Setelah itu, tugas yang sama mungkin terasa lebih mungkin untuk dihadapi.

3. Ketika kita ikut emosi saat anak tantrum

Ini mungkin justru bagian tersulit.

Anak meninggi.

Kita ikut meninggi.

Dalam situasi seperti ini, konsep thermostat menjadi pengingat sederhana:

Sebelum bertanya bagaimana membuat anak lebih tenang, mungkin kita perlu bertanya apa yang bisa kita lakukan agar suasana di sekitar anak menjadi lebih tenang.

4, Ketika anak sering disuruh “jangan nangis”

Menangis bukanlah instruksi yang bisa dimatikan hanya dengan mengatakan “jangan”.

Pendekatan yang berbeda bisa berupa:

“Kamu sedang sedih. Yuk, kita coba cara yang bisa membantu kamu merasa lebih tenang.”

Perbedaannya memang kecil dalam kata-kata.

Tetapi cara pandangnya berbeda.

Kita tidak hanya berusaha menghentikan ekspresi emosi.

Kita sedang membantu anak belajar menghadapi emosinya.

5. Ketika kita terlalu fokus pada worksheet yang belum selesai

Ada kalanya perhatian kita hanya tertuju pada hasil: “Ayo cepat selesaikan dek!.”

Padahal membantu anak kembali ke kondisi yang lebih siap belajar juga dapat menjadi bagian dari proses belajar.

Menenangkan diri bukan selalu pengalih dari belajar. Dalam situasi tertentu, kemampuan untuk kembali tenang justru dapat menjadi bagian dari kesiapan anak untuk belajar.


Pendidikan anak tidak berhenti di meja belajar

Mungkin inilah refleksi yang lebih luas dari pembahasan self-calming.

Ketika kita berbicara tentang pendidikan anak, kita sering membayangkan:

  • buku,
  • worksheet,
  • membaca,
  • matematika,
  • atau aktivitas akademik lainnya.

Padahal anak berkembang melalui pengalaman yang jauh lebih luas.

Mereka belajar melalui:

  • percakapan.
  • permainan.
  • hubungan.
  • bagaimana mereka menghadapi konflik.
  • bagaimana mereka memahami tubuh dan perasaannya.
  • Dan melalui aktivitas fisik serta pengalaman sehari-hari.

Karena itu, pendidikan anak pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang anak tahu, tetapi juga tentang bagaimana anak belajar menjalani pengalaman.

Bagi kami di Aloelaa, cara pandang seperti inilah yang membuat pembahasan tentang pendidikan anak terasa begitu luas.

Kami percaya bahwa perhatian kepada anak tidak berhenti pada pencapaian akademiknya. Perkembangan emosional, sosial, dan fisik juga merupakan bagian dari perjalanan anak yang layak diperhatikan.

Aktivitas seperti bermain, bergerak, dan berenang, misalnya, dapat menjadi bagian dari pengalaman fisik anak—bukan karena satu aktivitas dapat “menyelesaikan” semua kebutuhan perkembangan anak, tetapi karena masa kanak-kanak memang terdiri dari begitu banyak pengalaman yang saling melengkapi.

Karena itu, ketika kami memikirkan produk untuk anak, kami juga ingin melihatnya dalam konteks kehidupan anak yang lebih luas: bermain, bergerak, bereksplorasi, dan menikmati masa kanak-kanaknya.

Itulah salah satu alasan Aloelaa menghadirkan pakaian renang anak untuk keluarga yang ingin mendampingi aktivitas berenang anak dengan pilihan yang sesuai dengan kesukaan mereka.

baju renang anak modest laki dan perempuan aloelaa anti uv sehingga mengurangi radiasi paparan UV di ruang terbuka

Bila Anda sedang mencari pakaian renang untuk aktivitas berenang si kecil, Anda dapat melihat pilihan yang tersedia di Aloelaa.

Namun kembali ke pembahasan kita: tidak ada satu produk, satu teknik, atau satu aktivitas yang sendirian menentukan perkembangan seorang anak.

Yang membentuk perjalanan anak adalah kumpulan pengalaman yang kita hadirkan untuk mereka—hari demi hari.

Mungkin anak tidak membutuhkan lebih banyak perintah untuk tenang

Mungkin kita hanya perlu mengubah pertanyaannya.

Yang sebelumnya:

“Bagaimana membuat anak ini cepat tenang?”

Menjadi:

“Bagaimana saya bisa membantu anak belajar cara menenangkan dirinya?”

Perbedaannya sederhana.

Tetapi dari sana, pendekatan kita bisa berubah.

Kita mulai melatih ketika anak tenang.

Kita mulai menunjukkan cara kita sendiri menghadapi emosi.

Kita menciptakan lingkungan yang memberi ruang untuk reset.

Kita mencoba beberapa strategi dan mencari tahu mana yang sesuai untuk anak.

Dan setelah emosi mereda, kita kembali berbicara, memahami, dan belajar dari apa yang baru saja terjadi.

Anak tidak harus selalu tenang.

Kita sebagai orang dewasa pun tidak selalu bisa tenang.

Yang penting, perlahan-lahan anak belajar bahwa perasaan besar bukan sesuatu yang harus ditakuti atau sekadar dihentikan. Ada cara untuk menghadapinya.

Dan mungkin, di situlah pendidikan sebenarnya dimulai: bukan ketika anak selalu berhasil mengendalikan dirinya, tetapi ketika ia mulai belajar bagaimana melakukannya.

FAQ

1. Apa itu self-calming pada anak?

Self-calming adalah kemampuan anak menggunakan strategi tertentu untuk membantu dirinya kembali lebih tenang ketika menghadapi emosi, energi, atau situasi yang terasa berlebihan.

2. Mengapa anak tidak bisa langsung tenang ketika diminta?

Karena “tenang” bukan instruksi yang menjelaskan tindakan konkret. Anak perlu mengenal dan melatih strategi seperti bernapas, self-talk, mindful movement, menggambar, atau mengambil waktu di tempat yang lebih tenang.

3. Kapan sebaiknya anak belajar self-calming?

Strategi self-calming sebaiknya diperkenalkan dan dilatih ketika anak sedang tenang. Dengan demikian, strategi tersebut sudah familiar ketika anak menghadapi big feelings.

4. Bagaimana orang tua dapat membantu anak belajar regulasi emosi?

Orang tua dapat memodelkan cara menghadapi emosinya sendiri, memperkenalkan berbagai strategi calming, menyediakan lingkungan yang mendukung, dan membicarakan kejadian setelah anak kembali tenang.

5. Apakah semua anak membutuhkan teknik calming yang sama?

Tidak. Anak dapat merespons strategi yang berbeda-beda. Karena itu, orang tua dapat mencoba beberapa strategi dan memperhatikan apa yang membantu anak tertentu.

6. Apa itu peace corner?

Peace corner adalah tempat yang disiapkan sebagai salah satu pilihan bagi anak untuk mengambil waktu dan mempraktikkan strategi calming. Peace corner sebaiknya bukan tempat hukuman atau isolasi.

7. Apakah anak yang sulit fokus berarti malas belajar?

Belum tentu. Ketika anak sedang frustrasi, gugup, cemas, atau overwhelmed, kondisi emosionalnya dapat menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menyimpulkan bahwa anak tidak mau atau tidak mampu belajar.

8. Apa yang sebaiknya dilakukan setelah anak sudah tenang?

Orang tua dapat mengajak anak membicarakan apa yang terjadi, apa yang ia rasakan, dan apa yang mungkin bisa dicoba jika situasi serupa terjadi lagi. Tujuannya bukan sekadar menentukan siapa yang salah, tetapi membantu anak belajar memahami situasi dan memperbaiki hubungan.


Artikel ini terinspirasi dari pembahasan Edutopia mengenai self-calming skills pada young learners, kemudian kami rangkum dan terjemahkan ke dalam konteks parenting di rumah.

Comments

Popular posts from this blog

Materi Bahasa Inggris Anak SD Tema Keluarga: Flashcards, Contoh Kalimat, dan Quiz

Baju Renang Anak Perempuan Premium: Mengapa Koleksi Aloelaa Jadi Investasi Terbaik Bunda?

Memilih Bahan Baju Renang yang Bagus: Rahasia Komposisi "80/20" untuk Kenyamanan dan Keamanan Ananda

Benarkah Berenang Bikin Anak Lebih Cerdas? Ini 5 Fakta Tumbuh Kembang Si Kecil